Hukum Forex Dalam Islam : Fatwa MUI & Menurut Ustad

0
21

BerForex.com – Bukan menjadi rahasia, bahwa Hukum forex dalam islam masih banyak di perdebatkan. Ada yang meng halalkan namun juga ada yang melarang atau mengharamkan.

Sudah sewajarnya dalam menjalani sebuah usaha harus sesuai dengan yang di syariatkan oleh agama, entah dalam usaha berdagang, bekerja, menuntut ilmu dan tidak terkecuali juga dalam forex.

Pada pembahasan kali ini, kita akan sedikit berbagi informasi seputar sudut pandang ustad abdul somad dan juga fatwa mui tentang bisnis ini. Kami berusaha memberikan informasi sedetail mungkin, dan memberikan info se objektif dan se adil adilnya.

Forex Halal atau Haram

Kami tidak akan menarik kesimpulan apakah haram atau halal, karena sudah bukan wewenang kami dalam menyimpulkan hal tersebut. Namun, beberapa sudut pandang ini dapat anda jadikan rujukan untuk mengambil kesimpulan.

Rujukan pertama, bagaimana sudut pandang ustad Abdul Somad tentang hukum forex. Pada sebuah video, ada yang menanyakan seperti apa hukumnya forex halal ataukah haram.

Ustad menjawab, berkembangnya teknologi maka akan semakin berkembang pula cara cara perekonomian di dunia. Salah satu dampak perkembangan itu juga di rasakan pada tata cara bisnis dan bertransaksi. Menurut Beliau, baik forex, jual beli saham, eccomerce, ataupun transaksi lainnya dapat di perbolehkan asal terhindar dari 3 hal ini, yaitu :

  • 3 point di bawah, akan penulis berikan uraian berdasar opini dan sudut pandang penulis.
    1. Tidak ada Gambling (Judi)
      Menurut beliau, dalam menjalankan usaha atau ber transaksi tidak di perbolehkan adanya unsur judi. Dari beberapa kutipan, penulis dapat menyimpulkan bahwa judi adalah saat seseorang melakukan taruhan yang memungkinkan seseorang mendapat keuntungan ataupun kerugian, sehingga dapat mendapatkan atau kehilangan sejumlah harta dengan mudah (tanpa sebuah usaha).
      Allâh Azza wa Jalla berfirman:

      يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

      Mereka bertanya kepadamu tentang khamar  (minuman keras) dan judi. Katakanlah,  “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” [Al-Baqarah/2:219]

    2. Tidak ada Aniaya
      Unsur berikutnya adalah aniaya. Aniaya dapat di artikan sebagai tindakan melebihi batas, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dan juga menentang hal yang benar. Tidak di perkenankan adanya aniaya pada sesama manusia dalam menjalankan sebuah bisnis ataupun transaksi.

      وَعَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقُوْ الظُّلْمَ فَاِنَ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

      Artinya: “Diterima dari Jabir ra bahwa Nabi SAW. bersabda: “Takutilah kezaliman itu sebab sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat”. (HR. Muslim).

    3. Tidak ada Tipu
      Tentu sudah paham apa yang di maksud dari point ketiga ini. Tidak diperbolehkan adanya unsur tipu menipu, atau mengelabui untuk mendapatkan keuntungan.
      Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

      Artinya: “Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 2: 326.

    4. Riba (Rujukan Situs Islam)
      Point ini memang tidak di sebutkan oleh ustad abdul somad dalam videonya. Dalam Islam, berbisnis online memang di perbolehkan asalakan ssalah satunya yaitu terbebas dari riba.
      Salah satu hadits tentang larangan riba :

      عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

      dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim)

Dari 4 hal di atas, bila bisnis ini terbebas dari ke empatnya maka menurut pendapat ustad abdul somad di perbolehkan untuk di lakukan. Namun bila mengandung sedikitnya satu saja perkara dari 4 point di atas, maka haram hukumnya.

Pada titik ini tentu pembaca sudah mulai menerka, dan menelaah bagaimana hukum dari bisnis forex ini.

FOREX-dalam-islam

Sebenarnya bisnis forex juga sudah di atur dalam fatwa MUI. Berikut 3 point yang penulis dapat rangkum dari fatwa MUI.

Fatwa ini di atur dalam :

Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 28/DSN-MUI/III/2002

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF).

Pertama : Ketentuan Umum

Diperbolehkannya transaksi jual beli mata uang harus memenuhi beberapa kaidah berikut, yaitu :

  1.  Tidak adanya untuk spekulasi (untung-untungan).
  2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
  3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
  4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.

Kedua : Jenis-jenis transaksi Valuta Asing (Valas)

  1. Transaksi SPOT, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas untuk penyerahan pada saat itu atau selambat lambatnya tidak lebih dalam jangka waktu dua hari.
    Hukumnya diperbolehkan, karena dianggap bersifat tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.
  2. Transaksi FORWARD, yaitu transaksi jual beli valuta asing yang besaran nilainya ditetapkan sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2×24 jam sampai dengan satu tahun.
    Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah)
  3. Transaksi SWAP yaitu suatu kontrak penjualan atau pembelian valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward.
    Hukumnya haram, karena terdapat unsur spekulasi.
  4. Transaksi OPTION yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu.
    Hukumnya haram, karena terdapat unsur spekulasi.

Bila merujuk fatwa di atas, maka transaksi valuta asing itu diperbolahkan asal berjenis spot dan memenuhi 4 kriteria umumnya.

Lalu apa kesimpulannya? Haram atau Halal?

Sekali lagi kami sampaikan, kami tidak berwenang dalam menarik kesimpulan tersebut. Namun hal yang penulis jabarkan di atas, dapat dijadikan dasar bagi anda untuk menimbang apakah forex ini bersifat halal atau haram. Bila menurut anda haram, maka jauhilah karena masih banyak jenis bisnis lain di luar sana yang juga dapat memberikan keuntungan bagi anda. Bila bersifat halal maka tidak ada salahnya anda mempertimbangkan bisnis yang satu ini. Semua keputusan ada di tangan anda, dan menjadi tanggung jawab anda pribadi.

Semoga bahasan forex halal atau haram ini dapat memberikan informasi yang anda butuhkan. Salam Profit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here